haruskah dijawab?

"Hidup itu tak semengerikan cangkeme tonggo dan tak sehoror congore konco" Bisikan itu datang menuju telinga sebelah kananku dan kemudian dia menyubit lenganku dengan sekuat tenaga dan ku balas dengan senyuman. Senyuman? Ya karena aku tak bisa mengaduh kesakitan apa lagi teriak dan membalasnya karena banyak orang, dan sang penyubit mengacungkan jempolnya. Apa maksudnya? Butuh otak dan hati yang lapang untuk bisa memahami kejadian itu dengan penuh arti, bukan mengartikan soal kata-kata yang terdengar oleh telinga kananku. Tapi cubitan yang sekuat tenaga itu dan kemudian aku balas dengan senyuman. Yah ternyata sesederhana itulah hidup.
Hai para penanya yang dengan sengaja mencoba mengusik kebahagiaan? Jangan kau kira yang belum nikah tidak bahagia, jangan kau kira yang belum punya anak tidak bahagia. Oh iya kalau kamu ditanya balik "kapan mati?" gimana? Bisa kalian terima? bisa kalian jawab itu? Hah!!! Kenapa kalian marah? kenapa kalian bilang "itu tidak sopan"?
Bukankah hidup, rizki, jodoh, maut, itu rahasia Allah? manusia tidak ada yang tahu. Dan bukankah pertanyaan "kapan nikah?" itu sama dengan "kapan mati?" ya tentu itu sama-sama rahasia Allah.
Jika kalian pikir pertanyaan "kapan mati? itu hal yang menyakitkan. Tidak kah kalian pikirkan perasaan orang yang kau tanyakan "kapan nikah?" "kapan punya anak?". Kalau kalian ingin orang lain menjaga perasaan kalian, sudahkah kalian menjaga perasaan orang lain? Dari pada mengusik kebahagiaan orang lain lebih baik saling mendoakan. Jika kalian enggan untuk mendoakan setidaknya kalian tidak menyakitkan.

Comments

Popular posts from this blog

Tutup Telinga, Mata dan Mulut

pergi dan Jangan pernah kembali

genggaman tanganmu bahagiaku